Kita Jaga Peradaban Ini

                                                                           KITA JAGA PERADABAN INI

oleh: Sudarnoto Abdul Hakim

 

Jaman dulu, sebelum diutusnya Muhammad sebagai Rasul Allah, di Arab, dan bahkan di berbagai tempat di dunia ini konflik, peperangan sudah lumrah. Ada dua alasan paling tidak mengapa perang ini muncul terus yaitu alasan sentimen “suku” (etnis, tribe, Asobiyah bahasa Arabnya) dan “rampasan perang” (Ghanimah bahasa Arabnya). Jadi, ada sukuisme, atau Etnisisme atau Tribalisme dan Materiisme. Ideologi-ideologi itulah yang menyebabkan perang memperebutkan atau menundukkan lahan, wilayah secara geografis dan politik sekaligus. Spirit ini pula yang menyebabkan adanya penjajahan, imperialisme atau kolonialisme. Karena begitu seringnya kisah peperangan, penumpasan, penghancuran, perebutan kekuasaan terjadi untuk sebuah kekuasaan baru, maka muncullah orang-orang yang berkuasa, yang menindas, yang  jago atau memenangkan peperangan dan orang-orang yang dikuasai, di/tertindas, yang menjadi pecundang dan kalah. Jelaslah apa yang diperjuangkan, yang dicari dan ideologi apa yang dianut.

Ketika rasul atau nabi mengembangkan misi kerasulannya dan agama mulai berperan, sejarah manusiapun mulai mengalami perubahan. Orang-orang yang beriman (the believers) atas nama dan karena keagungan Tuhan dan ajaran agama mulai bergerak menyapa, mengajak dan kalau perlu memaksa orang-orang lain untuk beriman. Kalau ajakan ini tidak diterima dan apalagi melakukan penyerangan, maka akan diperangi. Jadi, perang lagi. Dengan demikian, perang itu terjadi, disamping karena alasan “Asobiyah” dan “Ghonimah” sebagaimana yang disebut di atas, juga karena alasan “Aqidah.” Sejarah manusia kembali dipenuhi oleh kisah-kisah perang  karena alasan dan tujuan-tujuan agama dan dengan menggunakan nama atau atas nama kesucian agama. Memerangi orang atau bangsa lain atas nama atau bertopeng agama dilakukan; agama dijadikan alat lejitimasi untuk memerangi, mengalahkan dan menghancurkan orang atau bangsa lain. Sama kejadiannya, ada yang menang dan ada yang kalah. Yang pasti kerusakan atau bahkan kehancuran tak bisa dihindarkan dan peradaban luhur sangat terusik. Teori “sword religion” memang pernah didengungkan karena muncul kenyataan menghancurkan atas nama agama.

Tentu saja pikiran ini sangat destruktif karena pada hakikatnya, agama mengemban misi kedamaian. Dan Islam untungnya memperkenalkan konsep “Rahmatan Lil Alamin.”  Tiga spirit di atas (Asobiyah, Ghanimah dan Aqidah), supaya tidak liar maka dilandasi dengan konsep Rahmatan lil Alamin. Inilah yang kemudian melahirkan kebudayaan (culture atau Tsaqofah Bahasa Arabnya) dan peradaban (civilization atau Hadloroh Bahasa Arabnya) yang luhur dan kuat. Jadi, tidak ada lagi pandangan sempit kesukuan, tribalisme atau sukuisme dan bahkan nasionalisme sempit. Yang ada adalah Umat yang sangat menghargai  perbedaan bahkan perbedaan agama sekalipun, sebagaimana yang preseden historisnya bisa dilihat dari kepemimpinan Muhammad era Madinah. Tidak ada masalah mengapa saya beragama Islam, anda  beragama Kristen, dia Hindu, mereka Yahudi dan lain-lain. al-Qur’an sendiri memang mendorong spirit menghargai dan tidak mempertentangkan perbedaan agama; ada kebebasan memilih agama apa saja. “Lakum dinukum waliya din.” Itu ayatnya. Jadi, rukun, damai, tidak saling curiga mencurigai, tidak ada yang menelikung atau menghianati perkawanan umat beragama ini. Yang terasa dalam kehidupan yang beraneka baik suku dan agama ini adalah “Rahmat Allah.” Itulah Rahmatan lil Alamin.

Tsaqofah dan  Hadloroh Islamiyah ini universal, tidak diskriminatif untuk siapa saja. Tsaqofah dan Hadloroh ini menjadi kokoh dengan pilar ilmu pengetahuan dan tentu juga iman. Lihatlah era Abbasyiah (the goden age of Islam). Tidak mungkin sebuah kebudayaan atau peradaban akan berdiri tegak jika ilmu pengetahuan tidak dikembangkan. Ilmu pengetahuan menjadi salah satu syarat tegaknya peradaban tidaklah tertolak.  Karena itu, tidak ada pilihan bagi kita kecuali “berilmu pengetahuan.” Kata-kata “perang” primitif  yang menghancurkan sebagaimana yang diurai di atas, haruslah  diganti dengan kata-kata “kompetisi” sehat untuk peradaban. Orang-orang Eropa sudah mengganti perang primitif antar suku untuk banyak alasan dengan “pertandingan sepak bola,” misalnya. Bangsa lain seperti Jepang, dulu perang primitif dan menghancurkan dengan Sekutu, kini diganti dengan memperbaiki, meningkatkan kualitas pendidikan. Dan Amerika sekarang ini harus menyaksikan pendidikan, produk sains dan teknologi Jepang sebagai “karya dan langkah yang  jempolan” untuk berkompetisi dengan Amerika dan tentu negara-negara maju lainnya.

Lalu, bagaimana bangsa-bangsa dan negara-negara muslim? Tidak ada pilihan, belajarlah dari kesuksesan bangsa-bangsa lain, apalagi dunia muslim juga pernah sukses di bidang ini. Kebangkitan harus dilakukan terus untuk sebuah peradaban yang kuat. Sebagai bagian dari masyarakat bangsa yang besar dan sekaligus umat beragama, harus ada keyakinan bahwa ada nilai-nilai atau prinsip luhur yang harus menjadi basis bagi upaya membangun sebuah masyarakat bangsa yang baik dan ideal dalam pengertian yang seluas-luasnya. Nomenklatur yang biasa digunakan, sebagaimana yang disebut-sebut dalam al-Qur’an, ialah Baldatun Thoyibatun wa Robbun Ghofur. Model idealnya tentu saja masyarakat dan negara Madinah saat dipimpin oleh Muhammad Rasulullah. Madinah adalah model ideal dan menjadi referensi banyak ahli antara lain juga dalam mengembangkan civil society. Bagi mereka Madinah adalah contoh sebuah masyarakat dan bangsa yang sangat progresif dalan pengertian menjangkau masa depan antara lain karena titik tekannya pada menghargai kemanusiaan dan ini merupakan bagian atau ekspresi historis  dari kesadaran beragama.

Tidak sedikit praktek kehidupan sehari-hari dan bahkan bernegara yang ternyata –sebagaimana yang juga disebut-sebut dalam buku ini– justru menghancurkan kemanusiaan dengan berbagai alasan atau motif. Contoh bangsa dan negara yang atas nama modernisasi, atas nama demokrasi dan bahkan atas nama agama dan tuhan yang ternyata malah melakukan kriminalisasi/viktimisasi  juga jelas bisa ditemukan dalam sejarah. Ini adalah paradoks. Modernisasi seharusnya berbasis kepada gagasan besar menciptakan kemajuan, kesejahteraan bersama dan keadilan dengan tetap menjunjung tinggi prinsip ajaran agama. Ini theistic modernization, tidak sekular, tidak hedonis materialistik dan apalagi kemudian diskriminatif dan memiskinkan masyarakat. Yang terjadi, banyak orang yang tersingkir dan terkorbankan secara sangat menyedihkan  oleh kekuatan negara demi modernisasi. Tidak sedikit  segmen masyarakat tertentu yang kemudian justru termarjinalkan atau teralienasi selama modernisasi berlangsung. Sementara, tidak sedikit juga kalangan yang berkeyakinan bahwa modernisasi telah menjadi ideologi baru dan bahkan mengganti agama untuk menyelesaikan banyak masalah dan mengarahkan masa depan.

Demokrasi seharusnya juga bersemangat sama antara lain memberi ruang yang fair, yang sama, yang adil kepada masyarakat seluas-luasnya sehingga mereka benar-benar menjadi bagian penting dari masa depan, bisa menikmati kehidupan yang baik secara apapun, tidak terdiskriminasi. Tingkat partisipasi masyarakat dalam mekanisme dan proses-proses politik memang harus maksimal, akan tetapi kehidupan dan kesejahteraan mereka harus memperoleh jaminan. Tingkat pendidikan mereka harus baik, hak-hak ekonomi mereka juga terpenuhi secara adil, hak-hak sosial masyarakat juga harus terlindungi, dan pada akhirnya kedaulatan harus dijunjung tinggi.